Model

Simalungun

HUT ke-193 Simalungun: Dari Jejak 686 Masehi hingga Semangat Baru Membangun Daerah

×

HUT ke-193 Simalungun: Dari Jejak 686 Masehi hingga Semangat Baru Membangun Daerah

Sebarkan artikel ini

SIMALUNGUN — AIRMAILNEW.COM

Pemerintah Kabupaten Simalungun memperingati Hari Jadi ke-193 dengan nuansa khidmat sekaligus penuh semangat kebangkitan. Momentum ini tak sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi pengingat kuat bahwa perjalanan panjang Simalungun telah dimulai sejak ratusan tahun silam—bahkan sejak 686 Masehi.

Peringatan tersebut digelar dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Simalungun di Gedung DPRD, Pamatang Raya, Sabtu (11/4/2026), dengan mengusung tema “Penguatan Jati Diri Budaya Menuju Simalungun Maju dan Berdaya Saing.”

Ketua DPRD Simalungun Sugiarto yang memimpin jalannya sidang menegaskan, di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi, tantangan pembangunan kian kompleks. Karena itu, dibutuhkan kerja bersama yang tidak biasa.

“Diperlukan inovasi, kolaborasi, dan sinergi dari seluruh elemen—pemerintah, DPRD, hingga masyarakat,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan, keberagaman yang ada di Simalungun bukan potensi konflik, melainkan kekuatan besar yang harus dijaga.

“Ini rumah kita bersama. Perbedaan adalah kekayaan, bukan pemisah,” ujarnya.

Jejak Sejarah: Dari Laklak hingga Raja Maropat

Bupati Simalungun, Dr. H. Anton Achmad Saragih, dalam pidatonya mengungkap fakta historis yang menjadi dasar Hari Jadi Simalungun—yakni penemuan Laklak Simalungun tertua di Talang Tua, Palembang.

Naskah tersebut mencatat tanggal 11 April Tahun Saka 608 atau setara 686 Masehi.

“Ini bukan sekadar tanggal. Ini adalah bukti bahwa peradaban Simalungun telah ada sejak berabad-abad lalu,” kata Bupati.

Sementara itu, tahun 1833 ditetapkan sebagai tonggak usia daerah, menandai terbentuknya Perserikatan Raja Maropat—fase penting dalam sejarah Kerajaan Simalungun yang memperkuat identitas dan persatuan wilayah.

“Dari sinilah nama Simalungun ditegaskan dan diwariskan hingga hari ini,” jelasnya.

Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Panggilan untuk Bergerak

Lebih dari sekadar perayaan, Bupati menekankan bahwa Hari Jadi ke-193 harus menjadi titik balik untuk memperkuat hubungan antara generasi masa kini dengan warisan leluhur.

Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan para raja terdahulu harus tetap hidup dalam tindakan nyata.

“Cinta terhadap daerah harus diwujudkan dalam kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja cerdas,” tegas Anton.

Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak melupakan sejarah, di tengah derasnya perubahan zaman.

“Setiap era punya tantangan. Tapi semangat kebersamaan tidak boleh hilang,” tambahnya.

Ziarah Leluhur hingga Panggung Rakyat

Sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah, Pemkab Simalungun menggelar berbagai rangkaian kegiatan, termasuk ziarah ke makam Raja Marpitu di sejumlah wilayah, seperti Raya, Panei, Tanah Jawa, hingga Silimakuta.

Bahkan, ziarah juga dilakukan ke makam Raja Sang Nauwaluh Damanik di Bengkalis, Riau.

Puncak perayaan dijadwalkan berlangsung pada 18 April 2026, dengan menghadirkan hiburan rakyat sebagai wujud kedekatan pemerintah dengan masyarakat.

“Ini bukan hanya perayaan, tapi refleksi perjalanan sejarah sekaligus penguat identitas kita,” ujar Bupati.

Menuju Simalungun Maju

Dengan mengusung visi “Bersama Semangat Baru Simalungun, Menuju Simalungun Maju,” pemerintah daerah menetapkan lima misi utama, mulai dari pembenahan pelayanan publik hingga penguatan ekonomi masyarakat.

Bupati menutup sambutannya dengan ajakan penuh semangat.

“Mari kita isi momentum ini dengan kerja nyata. Kita bangun Simalungun yang lebih kuat, lebih maju, dan lebih bermartabat,” pungkasnya.

Rapat paripurna tersebut juga diisi dengan pembacaan sejarah singkat Simalungun oleh Sekda Mixnon Andreas Simamora, sebelum ditutup dengan pemotongan kue dan foto bersama—menandai perayaan yang bukan hanya sarat makna, tetapi juga penuh harapan untuk masa depan.(***)