Pematangsiantar — Airmailnew.com
Kelangkaan minyak goreng “Minyak Kita” di Kota Pematangsiantar kini menjadi sorotan serius. Pasalnya, di tengah sulitnya masyarakat mendapatkan minyak di pasaran, pasokan dari pabrik justru terungkap dalam jumlah besar.
Hasil konfirmasi dan investigasi terhadap salah seorang pekerja di PT Multimas Nabati Asahan (PT MNA) Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, berinisial MS, mengungkap bahwa distribusi minyak goreng ke wilayah Pematangsiantar tetap berjalan masif. Keterangan tersebut disampaikan saat MS berada di Pematangsiantar, Sabtu, 18/04/2026).
Dalam keterangannya, MS menyebutkan bahwa pengiriman minyak dilakukan secara rutin dengan volume tinggi.
“Kalau per 16 jam, kadang sekali masuk bisa sampai 10 kontainer,” ujarnya.
Setiap kontainer disebut mengangkut sekitar 2.000 hingga 2.106 liter minyak goreng. Artinya, dalam sehari, pasokan yang dikirim ke wilayah Pematangsiantar diperkirakan mencapai sekitar 20.000 liter, bahkan bisa lebih jika menggunakan armada truk gandeng.
Namun fakta di lapangan justru berbanding terbalik.
Berdasarkan konfirmasi media AIRMAILNEW kepada pedagang dan Kepala Dinas Koperasi dan Perdagangan Kota Pematangsiantar pada Senin, (20/04/2026), ditemukan bahwa minyak “Minyak Kita” sempat langka di sejumlah titik pasar, bahkan kosong hingga beberapa hari.
Salah satu pedagang di Pasar Horas Jaya Siantar, Toko Putra, mengungkapkan bahwa stok minyak sempat tidak tersedia selama tiga hari.
“Barang sempat kosong tiga hari. Sekarang ada, tapi harganya sudah naik,” ujarnya.
Kenaikan harga pun cukup mencolok. Dari sebelumnya sekitar Rp16.000 per liter, kini harga di tingkat pasar mencapai kisaran Rp22.000 per liter.
Pedagang mengaku hanya memperoleh margin tipis. Saat ini, minyak didapat dari Parluasan dengan harga Rp223.000 per dus dan dijual kembali Rp225.000 per dus, dengan keuntungan hanya sekitar Rp2.000 per dus.
Di sisi lain, Toko Grosir Sirait di Kecamatan Siantar Marihat menyebutkan stok masih tersedia, namun dengan harga tinggi. Untuk kemasan 1 liter (12 x 1.000 ml) dijual sekitar Rp260.000 per kotak, sementara kemasan 2 liter (6 x 2 liter) berada di kisaran Rp230.000 per kotak.
Perbedaan harga yang tajam semakin memperkuat dugaan adanya persoalan dalam rantai distribusi. Pihak Bulog disebut masih menyalurkan minyak dengan harga sekitar Rp14.500 per liter, namun di tingkat masyarakat harga melonjak jauh hingga Rp22.000.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perdagangan Kota Pematangsiantar, Herbet Aruan, S.Pd., MH, mengakui masih adanya kendala di lapangan, terutama terkait distribusi ke pedagang.
“Memang masih ada kios yang tidak menjual karena mereka tidak memperoleh barang dari pemasok,” ujarnya.
Ia juga menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Bulog dan penyaluran sempat dilakukan sekitar satu minggu lalu ke pasar-pasar utama seperti Pasar Dwikora dan Pasar Horas.
Namun demikian, fakta bahwa harga masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) menunjukkan distribusi belum berjalan optimal.
“Ke depan kami akan lebih intens turun ke lapangan untuk melihat kendala yang terjadi,” kata Herbet.
Ia menegaskan, pihaknya tidak akan segan memberikan teguran kepada pedagang yang menjual di atas ketentuan.
Di tengah data pasokan yang mencapai puluhan ribu liter per hari, kondisi kelangkaan dan lonjakan harga di pasar menjadi anomali yang sulit diabaikan. Situasi ini mengarah pada dugaan kuat adanya hambatan dalam rantai distribusi, bahkan membuka kemungkinan peredaran di luar jalur resmi.
Jika tidak segera ditelusuri dan ditertibkan, kondisi ini berpotensi terus merugikan masyarakat yang menjadi pihak paling terdampak.









