PEMATANGSIANTAR, AIRMAILNEW Biasanya terlihat di ruang rapat DPRD Kota Pematangsiantar, kali ini Hendra Pardede justru tampil dengan wearpack dan perlengkapan balap. Anggota DPRD dari Fraksi Golkar yang juga Ketua Komisi II itu turun langsung mengikuti Walikota Cup Siantar Road Race 2026 di sirkuit buatan Terminal Tanjung Pinggir, Minggu (13/9/2026).
Bagi Hendra, turun ke lintasan bukan sekadar mengejar podium. Ajang tersebut menjadi cara untuk kembali menyalurkan hobi sekaligus mendorong olahraga otomotif berkembang secara positif di Kota Pematangsiantar.
Hendra tampil di kelas X Rider, kategori bagi para pembalap berusia 35 tahun ke atas. Kelas tersebut diikuti 16 peserta.
Di balik kesibukannya sebagai wakil rakyat, Hendra mengaku tetap memiliki perhatian terhadap perkembangan olahraga otomotif. Ia melihat Pematangsiantar memiliki sejarah panjang dalam melahirkan bibit-bibit pembalap.
Antusiasme terhadap Siantar Road Race 2026, menurutnya, juga menunjukkan bahwa olahraga otomotif masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat.
“Melihat antusias masyarakat Kota Pematangsiantar dan sekitar Kabupaten Simalungun, bahkan dari berbagai daerah di Sumatera Utara, Aceh, Pekanbaru hingga Jawa Barat, luar biasa,” ujar Hendra.
Ia berharap event seperti ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Hendra mendorong agar ajang road race maupun kegiatan otomotif lainnya dapat digelar secara rutin di Pematangsiantar.
“Minimal setiap tahunnya dua kali ada event road race atau event otomotif di Pematangsiantar,” katanya.
Salurkan Hobi, Tekan Balap Liar
Bagi Hendra, ada pesan yang lebih besar di balik geliat olahraga otomotif tersebut, yakni menyediakan ruang yang tepat bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat dan kegemarannya.
Dengan adanya sirkuit dan kompetisi resmi, anak-anak muda yang memiliki minat di dunia balap diharapkan tidak lagi menyalurkan hobinya di jalan raya.
“Positifnya juga bagaimana kawula muda tidak balapan liar lagi,” tegasnya.
Menurut Hendra, kegiatan otomotif juga berpotensi memberikan dampak ekonomi. Kehadiran pembalap dan tim dari luar daerah, bersama keluarga serta penonton, dinilai dapat menciptakan perputaran ekonomi bagi pelaku usaha di Kota Pematangsiantar.
Tak berhenti di sana, Hendra menyebut sudah ada gagasan untuk membuat kompetisi road race berseri pada tahun depan.
Rencananya, kompetisi digelar dalam empat seri. Seri pertama di Pematangsiantar, kemudian berlanjut ke Asahan dan Labuhanbatu, sebelum seri final kembali digelar di Pematangsiantar.
“Rencana tahun depan seperti itu. Ada empat seri, pembukaan di Siantar, kedua Asahan, ketiga Labuhanbatu, kemudian finalnya kembali di Siantar,” ungkapnya.
Sang Istri Beri Dukungan
Keputusan Hendra kembali turun ke lintasan juga mendapat dukungan dari sang istri, Hetty Hutagaol.

“Yang pertama karena memang itu sudah hobi dia. Jadi sebagai istri mendukung dan ini kan sebuah kegiatan yang positif,” ujar Hetty.
Menurut Hetty, keberadaan sirkuit resmi juga penting bagi anak-anak muda yang memiliki ketertarikan terhadap dunia balap.
Ia berharap mereka memiliki tempat yang aman untuk menyalurkan hobinya dan tidak melakukan balap liar di jalan umum.
“Menunjukkan contoh yang baik buat anak-anak muda supaya kalau mau balapan ada tempatnya,” katanya.
Wali Kota: Junjung Sportivitas dan Keselamatan
Sementara itu, Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi menyambut baik pelaksanaan Walikota Cup Siantar Road Race 2026.
Menurut Wesly, kegiatan tersebut bukan hanya kompetisi untuk mengasah kemampuan pembalap, tetapi juga wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat dan minat di bidang olahraga otomotif secara positif dan terarah.
Ia berharap pertandingan berlangsung aman dan lancar serta melahirkan pembalap berprestasi yang mampu membawa nama Kota Pematangsiantar ke tingkat yang lebih tinggi.
“Selamat bertanding, junjung tinggi sportivitas dan utamakan keselamatan,” ujar Wesly saat membuka secara resmi Walikota Cup Siantar Road Race 2026.
Di tengah kesibukannya sebagai legislator, Hendra Pardede menunjukkan bahwa kursi dewan dan dunia otomotif tidak harus berada di dua dunia yang berbeda. Baginya, hobi tetap bisa berjalan, sementara pesan yang dibawa adalah menyediakan ruang positif bagi generasi muda untuk berprestasi, bukan balapan liar.










