Pematangsiantar — Airmailnew.com
Dugaan kerusakan alat kesehatan Cath Lab atau alat kateterisasi jantung di RSUD Djasamen Saragih menjadi sorotan publik setelah sejumlah masyarakat mengeluhkan terganggunya pelayanan pemasangan ring jantung bagi pasien.
Informasi yang dihimpun awak media di lapangan menyebutkan, alat kesehatan bernilai besar tersebut diduga sempat mengalami kerusakan cukup lama hingga berdampak terhadap pelayanan pasien jantung, khususnya pengguna BPJS Kesehatan.
Sebelum melakukan konfirmasi kepada pihak humas rumah sakit, awak media terlebih dahulu mendatangi ruang Direktur RSUD Djasamen Saragih, drg. Irma Suryani MKM, guna meminta penjelasan terkait kondisi alat Cath Lab tersebut. Namun, pihak direktur disebut tidak berada di tempat.
“Direktur tidak berada di kantor, ada perjalanan dinas,” ujar salah seorang pegawai kantor kepada awak media.
Saat dikonfirmasi pada Jumat (23/05/2026), Humas RSUD Djasamen Saragih, Wanda Sinamo, membenarkan bahwa alat Cath Lab memang sempat mengalami kerusakan dan tidak beroperasi selama beberapa bulan.
“Memang kemarin ada kerusakan. Kita sempat off enam bulan kalau enggak salah,” ujar Wanda kepada awak media.
Menurutnya, kerusakan diduga terjadi akibat faktor usia atau aus pada alat. Namun dirinya mengaku tidak mengetahui secara rinci teknis kerusakan maupun besaran anggaran perbaikannya karena hal tersebut merupakan ranah bagian aset dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
“Kalau detail kerusakannya mungkin orang aset yang lebih paham. Karena ini pengadaan lama, zaman manajemen sebelumnya,” katanya.
Dari penelusuran media, alat Cath Lab tersebut diketahui sudah berada di RSUD Djasamen Saragih sejak tahun 2019. Namun alat itu disebut baru mulai beroperasi sekitar tahun 2023 setelah berbagai proses perizinan, termasuk izin radiologi, Bapeten, hingga proses klaim layanan BPJS Kesehatan selesai dilakukan.
“Alat ini datang tahun 2019, tapi mulai beroperasi sekitar 2023 karena harus mengurus izin dan klaim BPJS dulu,” jelas Wanda lagi.
Ironisnya, belum genap beberapa tahun beroperasi, alat tersebut kembali mengalami kerusakan pada sekitar September 2025 lalu.
“Rusaknya sekitar bulan sembilan tahun lalu. Sekarang alatnya sebenarnya sudah bagus, tinggal menunggu izin dan proses dari BPJS lagi,” ungkapnya.
Meski status layanan BPJS masih dalam proses, Wanda menyebut alat Cath Lab saat ini sebenarnya sudah dapat difungsikan untuk pelayanan pasien umum.
“Sekarang alatnya sudah bagus,” katanya.
Namun menurut Wanda, biaya tindakan pemasangan ring jantung bagi pasien umum diperkirakan bisa mencapai puluhan juta rupiah.
“Kalau pasien umum mungkin bisa mencapai sekitar Rp50 juta,” ujarnya.
Pihak rumah sakit juga menyebutkan bahwa proses credentialing atau penilaian kelayakan layanan Cath Lab baru saja dilakukan oleh pihak BPJS Kesehatan pada 8 Mei 2026.
Credentialing tersebut menjadi salah satu syarat agar pelayanan pemasangan ring jantung dapat dijamin atau dicover BPJS Kesehatan.
“Kalau sudah dijamin BPJS, nanti keluarlah izin pelayanannya. Jadi masyarakat pengguna BPJS juga bisa pasang ring jantung,” kata Wanda.
Meski demikian, hingga berita ini diterbitkan, belum ada kepastian sejak kapan layanan tersebut benar-benar aktif dan dapat digunakan penuh oleh peserta BPJS Kesehatan.
Di sisi lain, awak media juga mencoba menghubungi pihak humas BPJS Kesehatan Hakim melalui sambungan telepon guna mengonfirmasi status layanan Cath Lab tersebut.
Dari percakapan yang diterima media, pihak BPJS menyebut layanan pemasangan ring jantung di rumah sakit tersebut masih dalam tahap proses.
“Masih berproses,” ujar Hakim pihak BPJS singkat saat dikonfirmasi.
Pernyataan itu memunculkan pertanyaan publik terkait efektivitas pengadaan alat kesehatan bernilai besar yang telah tersedia sejak 2019 namun belum optimal dimanfaatkan untuk pelayanan masyarakat.
Keluhan masyarakat pun mulai bermunculan. Beberapa warga mengaku khawatir keterlambatan operasional alat Cath Lab dapat berdampak serius bagi pasien penyakit jantung yang membutuhkan penanganan cepat.
“Mudah-mudahan cepat diizinkan, karena pasien jantung itu butuh penanganan cepat,” ungkap salah seorang sumber di lokasi.
Dalam wawancara yang sama, pihak rumah sakit juga membantah adanya gangguan pelayanan Hemodialisa (HD). Menurut Wanda, layanan HD menggunakan sistem kerja sama vendor sehingga setiap kerusakan alat dapat langsung diganti dengan mesin cadangan.
“Kalau HD ada backup mesin dari vendor, jadi pelayanan pasien tidak terganggu,” jelasnya.
Hingga kini, publik masih menunggu penjelasan resmi terkait:
- Penyebab pasti kerusakan Cath Lab,
- Besaran anggaran perbaikan,
- Siapa pihak pengelola pengadaan saat itu,
Serta kapan layanan pemasangan ring jantung benar-benar dapat diakses penuh oleh masyarakat pengguna BPJS Kesehatan.
Media ini masih berupaya melakukan konfirmasi lanjutan kepada pihak-pihak terkait, termasuk mantan manajemen rumah sakit dan instansi yang berwenang dalam pengadaan alat kesehatan tersebut.









