Catatan perjalanan yang ditulis langsung Wakil Gubernur Sumatera Barat dari pelosok Jorong Patamuan
PADANG – AIRMAILNEWS.COM
Idul Adha 1447 Hijriah menjadi momen yang berbeda bagi Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy. Di saat sebagian besar masyarakat merayakan hari raya bersama keluarga, Vasko justru memilih menempuh perjalanan panjang menuju Sungai Lolo, Jorong Patamuan, sebuah kawasan terpencil di kaki Bukit Barisan yang berada di perbatasan Kabupaten Pasaman, Limapuluh Kota, dan Provinsi Riau.
Kisah perjalanan tersebut dibagikan Vasko melalui akun Facebook pribadinya pada Jumat (29/5/2026) dalam sebuah tulisan berjudul “Sebuah Catatan dari Ujung Negeri Sumatera Barat: Derasnya Arus Sungai, Sederas Harapan Masyarakat di Patamuan.”
Dalam catatan itu, Vasko mengisahkan bagaimana dirinya harus meninggalkan keluarga pada Hari Raya Idul Adha demi menyapa langsung masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pembangunan.
“Idul Adha tahun ini terasa berbeda. Bukan sekadar karena saya tidak merayakannya bersama keluarga, tetapi karena perjalanan yang saya pilih membawa saya pada sesuatu yang jauh lebih dalam, sebuah pertemuan dengan kenyataan hidup di ujung negeri,” tulis Vasko.
Perjalanan menuju Patamuan bukanlah perkara mudah. Dari Padang, rombongan menempuh perjalanan darat hampir 10 jam melintasi jalan berliku yang membelah bukit dan lembah.
Namun tantangan sesungguhnya baru dimulai ketika kendaraan tidak lagi bisa melanjutkan perjalanan.
Untuk mencapai kawasan tersebut, Vasko bersama rombongan harus menyusuri Sungai Lolo menggunakan sampan kecil. Di tengah arus sungai yang deras dan gelapnya malam, mereka hanya mengandalkan pengalaman sang nahkoda untuk menembus medan yang penuh risiko.
“Arus sungai begitu deras. Batu-batu besar bersembunyi di bawah permukaan. Beberapa kali sampan kami dihantam arus, oleng, nyaris kehilangan keseimbangan,” tulisnya.
Dalam perjalanan itu, Vasko mengaku mulai menyadari perbedaan besar antara kehidupan masyarakat perkotaan dengan warga yang tinggal di pelosok.
Baginya, sungai yang terlihat berbahaya itu justru menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat.
“Bagi kami, sungai ini adalah ancaman. Namun bagi masyarakat di sana, inilah jalan kehidupan. Jalur warga membawa hasil kebun, jalur menuju pengobatan, bahkan jalur untuk mengantar harapan,” ungkapnya.
Sesampainya di Patamuan, Vasko tidak menemukan penyambutan mewah maupun protokol yang berlebihan. Yang menyambut hanyalah senyum tulus warga, anak-anak yang berlarian di tepian sungai, dan suasana hangat yang menurutnya sulit ditemukan di banyak tempat.
Salah satu momen yang paling membekas baginya terjadi saat makan malam bersama masyarakat.
Kala itu, warga menghidangkan ikan sungai yang dikenal dengan sebutan “ikan larangan”. Dalam tradisi setempat, ikan tersebut tidak boleh diambil sembarangan dan hanya dapat dipanen berdasarkan kesepakatan para ninik mamak.
Namun malam itu, adat tersebut dibuka khusus sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang datang dari jauh.
“Apa yang mereka berikan malam itu bukan sekadar makanan. Itu adalah bentuk keikhlasan. Bentuk penghargaan. Bahkan mungkin sebuah pengorbanan dari adat yang mereka jaga selama ini,” tulis Vasko.
Dari perjumpaan dengan masyarakat Patamuan, Vasko mengaku menemukan nilai-nilai yang mulai sulit dijumpai di banyak tempat.
Gotong royong masih hidup. Surau tetap dijaga. Adat masih dihormati. Dan kebersamaan masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di sisi lain, ia juga melihat berbagai persoalan yang masih dihadapi warga, mulai dari rumah yang belum layak huni hingga keterbatasan pasokan listrik akibat rusaknya pembangkit yang pernah beroperasi di wilayah tersebut.
Karena itu, Vasko menyatakan komitmennya untuk menghadirkan program bedah rumah serta mendorong percepatan perbaikan fasilitas kelistrikan bagi masyarakat setempat.
Keesokan harinya, setelah Salat Idul Adha, masyarakat Patamuan melaksanakan penyembelihan hewan kurban.
Momen itu menjadi sangat berkesan karena sebelumnya kampung tersebut tidak memiliki hewan kurban.
“Melihat kebahagiaan mereka saat sapi kurban disembelih, itu bukan sekadar rasa syukur. Itu adalah haru yang sulit dijelaskan,” tulisnya.
Di akhir catatannya, Vasko menegaskan bahwa perjalanan tersebut memberinya pelajaran penting tentang makna kepemimpinan.
Menurutnya, seorang pemimpin tidak cukup hanya memahami laporan di atas meja atau melihat angka-angka dalam dokumen pembangunan.
Pemimpin harus hadir langsung di tengah masyarakat, melihat, mendengar, dan merasakan apa yang mereka alami.
“Derasnya arus sungai yang saya lalui hari itu terasa seperti derasnya harapan masyarakat. Harapan agar pembangunan tidak berhenti di kota. Harapan agar anak-anak mereka memiliki masa depan yang lebih baik,” tulisnya.
Catatan itu kemudian ditutup dengan kalimat yang menyentuh tentang Jorong Patamuan.
“Jorong Patamuan Sungai Lolo mungkin berada di ujung negeri. Namun suara masyarakatnya harus selalu berada di pusat hati kita.”
(Tulisan ini dirangkum dari catatan yang diunggah Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, melalui akun Facebook pribadinya pada Jumat, 29 Mei 2026.)

