Pematangsiantar – Airmailnew.com
Suasana di depan Kantor BNI Cabang Pematangsiantar mendadak memanas pada Selasa sore (26/5/2026). Sejumlah massa yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Barian Negeri (GPBN) bersama keluarga korban dugaan penipuan deposito koperasi menggelar aksi unjuk rasa sambil membawa selebaran bertuliskan “Stop Menabung di BNI”.
Aksi tersebut menyita perhatian masyarakat dan pengguna jalan di kawasan pusat Kota Pematangsiantar. Massa secara bergantian menyampaikan orasi dan menunjukkan salinan putusan pengadilan terkait dugaan kerugian nasabah senilai Rp4,2 miliar.
Dalam aksinya, para demonstran meminta pihak bank segera bertanggung jawab atas kerugian yang dialami korban. Massa menilai perkara tersebut telah memiliki putusan hukum hingga tingkat Peninjauan Kembali (PK), namun hingga kini belum juga menemui penyelesaian.
Para korban menyebut persoalan tersebut telah berlangsung lebih dari 10 tahun. Lamanya proses penyelesaian perkara itu disebut membuat keluarga korban kelelahan secara mental, ekonomi, hingga kehilangan masa depan yang sebelumnya telah direncanakan.
“Kami hanya menuntut keadilan dan hak korban dikembalikan,” teriak salah seorang peserta aksi.
Koordinator aksi, Jefri Artado Purba, mengaku kecewa terhadap pelayanan dan proses yang dihadapi para nasabah dalam perkara tersebut. Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati mempercayakan dana mereka kepada pihak perbankan.
“Saya sampaikan kepada masyarakat agar lebih berhati-hati mempercayakan tabungan dan rekeningnya. Kami menilai masyarakat kecil dan orang tua yang mencari keadilan seharusnya mendapatkan perlakuan yang lebih baik,” ujar Jefri dalam orasinya.
Jefri turut menyoroti proses mediasi yang dinyatakan gagal dan mempertanyakan langkah hukum yang ditempuh dalam perkara tersebut. Ia menilai para korban yang sebagian sudah lanjut usia seharusnya mendapatkan kepastian hukum lebih cepat setelah bertahun-tahun memperjuangkan hak mereka.
Suasana aksi semakin emosional ketika salah satu keluarga korban, Meta br Pakpahan, menyampaikan kesedihannya di hadapan massa. Dengan suara terbata-bata, ia mengaku terpukul melihat kondisi orang tuanya yang terus memperjuangkan hak mereka selama bertahun-tahun.
Menurut Meta, dana keluarga yang sebelumnya disimpan di Bank Negara Indonesia awalnya dipersiapkan untuk biaya pendidikan adiknya. Namun akibat persoalan tersebut, adiknya disebut gagal melanjutkan pendidikan S2.
“Hati saya hancur melihat kondisi orang tua kami. Uang itu awalnya dipersiapkan untuk biaya kuliah dan masa depan adik saya, tetapi sekarang adik saya tidak bisa melanjutkan pendidikan S2 karena uang tersebut sudah tidak ada,” ungkapnya sambil menangis.
Tak lama setelah menyampaikan orasi, Meta sempat terlibat adu dorong dengan petugas keamanan sebelum akhirnya jatuh pingsan di lokasi aksi. Sejumlah peserta demo dan keluarga korban langsung memberikan pertolongan.
Aksi demonstrasi itu mendapat pengawalan ketat dari personel kepolisian dan petugas keamanan internal BNI. Aparat tampak berjaga di pintu masuk kantor bank guna mengantisipasi gangguan keamanan.
Di tengah aksi, kuasa hukum Bank Negara Indonesia (BNI), Dian Napitupulu, menyatakan pihaknya masih menempuh proses hukum terkait perkara tersebut. Ia menyebut BNI telah mengajukan perlawanan terhadap penetapan Pengadilan Negeri dan saat ini perkara masih berlanjut ke tahap persidangan setelah proses mediasi dinyatakan gagal.
“Kami meminta semua pihak mengawal proses hukum dan menunggu keputusan resmi dari pengadilan maupun majelis hakim,” ujar Dian di hadapan massa aksi.
Meski berlangsung dengan tensi tinggi, aksi demonstrasi tersebut tetap berjalan kondusif di bawah pengawasan aparat kepolisian. Massa menyatakan akan terus mengawal perkara tersebut hingga ada kepastian hukum dan penyelesaian bagi para korban yang mengaku telah menunggu keadilan selama lebih dari satu dekade.










