Model

Model
SimalungunEkonomiNewsPendidikanRubrikTeknologi

Warga Soroti Kerusakan 48 Kilometer Jalan di Silou Kahean, Dorong Kolaborasi Pemkab Simalungun dan Pemprov Sumut

×

Warga Soroti Kerusakan 48 Kilometer Jalan di Silou Kahean, Dorong Kolaborasi Pemkab Simalungun dan Pemprov Sumut

Sebarkan artikel ini

SIMALUNGUN – AIRMAILNEW.COM Kondisi sejumlah ruas jalan utama di Kecamatan Silou Kahean, Kabupaten Simalungun, kembali menjadi perhatian masyarakat. Kerusakan jalan dinilai tidak hanya mengganggu kenyamanan pengguna jalan, tetapi juga berdampak terhadap mobilitas warga dan aktivitas perekonomian.

 

Sedikitnya terdapat empat ruas jalan yang menjadi perhatian masyarakat, yakni Nagori Damakkitang–Nagori Tani sepanjang sekitar 6 kilometer, Nagori Damakkitang–Nagori Sinasih sekitar 8–9 kilometer, Nagori Dolok–Nagori Dolok Marawa sekitar 6 kilometer, serta Nagori Simanabun–Pangalbuan Raya sekitar 28 kilometer.

 

Dengan perkiraan tersebut, total panjang ruas jalan yang menjadi perhatian masyarakat mencapai sekitar 48–49 kilometer.

 

Bagi masyarakat Silou Kahean, keberadaan jalan yang layak menjadi kebutuhan penting. Selain menghubungkan antarwilayah, akses jalan digunakan warga untuk bekerja, mengangkut hasil pertanian, bersekolah, mendapatkan pelayanan kesehatan hingga menjalankan aktivitas ekonomi.

 

Keprihatinan itu disampaikan Sekretaris Tuppuan Damanik Boru Panogolan (TDBP) Silou Kahean, Arifin Damanik.

 

Sebagai putra daerah, Arifin menilai persoalan infrastruktur jalan tidak semata-mata berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.

 

“Jalan adalah urat nadi masyarakat. Ketika akses jalan mengalami kerusakan, dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama petani yang membawa hasil pertanian, anak-anak yang pergi ke sekolah, masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan, dan pelaku usaha,” ujar Arifin.

 

Menurutnya, masyarakat memahami pemerintah memiliki keterbatasan anggaran dan harus menentukan skala prioritas pembangunan. Namun, jika kemampuan anggaran Kabupaten Simalungun belum memungkinkan menangani seluruh ruas jalan yang mengalami kerusakan, ia berharap Pemkab Simalungun dan Pemprov Sumatera Utara dapat membangun kolaborasi.

 

“Kalau kemampuan anggaran kabupaten terbatas, menurut saya solusinya bukan hanya menunggu. Harus dibangun kolaborasi antara Pemkab Simalungun dengan Pemprov Sumut, sehingga ruas-ruas jalan yang membutuhkan penanganan dapat dikerjakan secara bertahap sesuai kewenangan dan kemampuan anggaran masing-masing,” katanya.

 

Dorong Pemetaan dan Skala Prioritas

 

Hal senada disampaikan Hermanto Hamonangan Sipayung, SH, CIM, putra kelahiran Silou Kahean yang kini aktif sebagai advokat.

 

Hermanto menilai kolaborasi antarpemerintah daerah diperlukan agar pembangunan infrastruktur dapat menjangkau wilayah yang masih membutuhkan perhatian.

 

Ia berharap kondisi jalan di Silou Kahean dipetakan secara menyeluruh, termasuk mengidentifikasi titik-titik dengan tingkat kerusakan paling berat untuk kemudian ditetapkan sebagai prioritas penanganan.

 

“Masyarakat tidak meminta semuanya harus selesai dalam satu tahun. Yang penting ada perencanaan yang jelas, ada skala prioritas, dan ada kolaborasi. Kalau dilakukan bertahap, masyarakat tentu bisa memahami,” ungkapnya.

 

Menurut Hermanto, pembangunan jalan memiliki kaitan erat dengan perekonomian masyarakat, khususnya warga yang menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian.

 

Kondisi jalan sangat menentukan kelancaran pengangkutan hasil pertanian dari wilayah produksi menuju pasar maupun pusat perdagangan. Jalan yang layak juga akan memperlancar mobilitas masyarakat antar-nagori serta memudahkan akses menuju fasilitas pendidikan, kesehatan dan pelayanan pemerintahan.

 

Karena itu, Hermanto berharap aspirasi masyarakat Silou Kahean dapat menjadi perhatian dalam perencanaan pembangunan infrastruktur, baik di tingkat Kabupaten Simalungun maupun Provinsi Sumatera Utara.

 

“Saya lahir di Silou Kahean. Saya tahu bagaimana kehidupan masyarakat di daerah ini. Harapan masyarakat sebenarnya sederhana, yaitu memiliki akses jalan yang layak. Karena itu, saya berharap Pemkab Simalungun bersama Pemprov Sumut dapat berkolaborasi mencari solusi terbaik,” tuturnya.

 

Ia menegaskan, penyampaian aspirasi tersebut bukan untuk menyudutkan pemerintah, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap kampung halaman dan masyarakat yang membutuhkan perhatian terhadap infrastruktur dasar.

 

“Mari kita dorong dengan cara yang konstruktif. Pemerintah punya keterbatasan, masyarakat juga punya harapan. Di sinilah pentingnya kolaborasi agar persoalan yang ada bisa dicari jalan keluarnya bersama,” pungkas Hermanto. (***)