AIRMAILNEW.COM – Perbedaan penetapan awal Ramadan kembali menjadi perhatian publik. Sebagian umat Islam memulai puasa lebih dulu, sementara yang lain sehari setelahnya. Fenomena ini pun kerap menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat, Rabu (18/03/2026).
Ustadz Abdul Somad Batubara atau yang akrab disapa UAS, memberikan penjelasan sederhana namun komprehensif melalui video yang diunggah akun Facebook Lensa UAS. Video tersebut ramai diperbincangkan, dengan 173.348 tanda suka, 3.222 komentar, dan telah dibagikan 16.506 kali.
Dalam penjelasannya, UAS mengawali dengan konsep dasar penentuan awal bulan dalam Islam, yakni melalui pengamatan hilal atau bulan sabit.
“Pada tanggal 29 Ramadan, dilakukan pengamatan hilal. Jika terlihat, maka keesokan harinya sudah masuk bulan baru. Jika tidak terlihat, maka bulan disempurnakan menjadi 30 hari,” ujarnya.
Lalu, mengapa bisa terjadi perbedaan?
UAS menjelaskan, hal itu berkaitan dengan metode yang digunakan oleh masing-masing organisasi Islam. Muhammadiyah, misalnya, menggunakan kalender global.
Artinya, jika hilal sudah terlihat di satu tempat di dunia—seperti yang disebutkan UAS di wilayah Alaska—maka hasil tersebut berlaku secara internasional.
“Kalau sudah terlihat di satu tempat, maka itu dianggap berlaku untuk seluruh dunia,” jelasnya.
Sebaliknya, sejumlah organisasi lain seperti Nahdlatul Ulama, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Persatuan Islam, Al Jam’iyatul Washliyah, hingga Majelis Ulama Indonesia menggunakan metode rukyatul hilal atau pengamatan langsung di wilayah masing-masing.
Metode ini membuat hasil penentuan awal bulan bisa berbeda antarwilayah, tergantung kondisi visibilitas hilal secara lokal.
“Di sinilah letak perbedaannya. Bukan soal benar atau salah, tetapi perbedaan cara dalam menentukan,” kata UAS.
Ia menegaskan, pada prinsipnya semua pihak memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan awal bulan berdasarkan kaidah yang diyakini.
Di akhir penjelasannya, UAS mengingatkan pentingnya menyikapi perbedaan ini dengan bijak. Ia juga mendorong media untuk menyampaikan informasi secara jernih agar tidak memicu kesalahpahaman di masyarakat.
“Perlu dijelaskan dengan bahasa yang baik dan ilmiah, supaya tidak menimbulkan konflik. Karena semuanya sama-sama berupaya melihat hilal,” ujarnya.
Dengan pemahaman ini, diharapkan masyarakat dapat lebih tenang dan saling menghargai perbedaan dalam menjalankan ibadah Ramadan.









