PEMATANGSIANTAR – AIRMAILNEW.COM
Aksi demonstrasi Aliansi Mahasiswa dan Rakyat Menggugat di Kota Pematangsiantar berlangsung panas dan menegangkan, Kamis (07/05/2026). Massa aksi yang kecewa karena tuntutannya tak kunjung mendapat respons nekat menerobos lantai II Kantor Dinas Pendidikan Kota Siantar hingga masuk ke halaman Kantor Wali Kota Siantar.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 13.00 WIB itu langsung menyita perhatian warga. Puluhan mahasiswa membawa poster, spanduk, pengeras suara hingga keranda sebagai simbol matinya keadilan pendidikan dan kesejahteraan rakyat.
Di Kantor Dinas Pendidikan Kota Siantar, Jalan Merdeka, massa tanpa ragu masuk ke dalam gedung dan naik ke ruang pertemuan lantai II. Suasana sempat memanas ketika mahasiswa bergantian menyampaikan orasi dengan nada keras.
Rado Sidauruk selaku pimpinan aksi bersama Jems Gultom sebagai koordinator lapangan menjadi pusat perhatian saat menyuarakan 15 tuntutan kepada pemerintah.
“Kami muak melihat pendidikan dijadikan komoditas. Pendidikan itu hak rakyat, bukan barang dagangan,” teriak salah satu orator yang langsung disambut sorakan massa.
Dalam aksinya, mahasiswa menyoroti berbagai persoalan serius mulai dari komersialisasi pendidikan, ketimpangan akses sekolah, kesejahteraan buruh, sistem outsourcing, hingga dugaan pengalihan anggaran pendidikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Massa juga menuntut transparansi data penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan meminta pemerintah menghentikan kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat kecil.
Tak hanya itu, mahasiswa menilai pemerintah gagal menjamin kesejahteraan tenaga kerja dan pemerataan pendidikan. Mereka menyebut kondisi tersebut memperlebar jurang sosial di tengah masyarakat.
Setelah hampir satu jam berorasi di Kantor Dinas Pendidikan, massa bergerak menuju Kantor Wali Kota Siantar. Sepanjang Jalan Sutomo, demonstran beberapa kali menghentikan arus massa untuk melakukan orasi jalanan yang mengundang perhatian pengguna jalan.
Ketegangan kembali terjadi saat massa tiba di Kantor Wali Kota Siantar. Dengan teriakan lantang, mahasiswa meminta Wali Kota Wesly Silalahi keluar menemui mereka.
“Wali kota harus keluar! Jangan sembunyi dari rakyat!” teriak massa secara bersamaan.
Namun harapan demonstran pupus setelah Hamdani Lubis selaku Staf Ahli Bagian Pembangunan menyampaikan bahwa wali kota sedang berada di luar kota.
“Bapak wali kota tidak berada di tempat, sedang dinas luar,” ujar Hamdani di hadapan massa aksi.
Jawaban itu langsung memicu kekecewaan. Massa yang emosi kemudian membakar ban di depan kantor wali kota sambil terus melontarkan kritik keras terhadap pemerintah.
Asap hitam pekat sempat membubung tinggi di depan gerbang kantor wali kota. Aparat keamanan tampak bersiaga mengantisipasi situasi agar tidak berubah ricuh.
Meski berlangsung panas, aksi akhirnya berakhir sekitar pukul 16.00 WIB. Massa membubarkan diri secara perlahan setelah menyampaikan seluruh tuntutan mereka.
Demo tersebut menjadi sorotan warga karena mengangkat isu sensitif yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, terutama soal masa depan pendidikan, lapangan kerja, dan kesejahteraan rakyat kecil.









